.. .......... . HOME.PRODUCT.CONTACT .ABOUT US.ORDER

Seni Tradisi (Patung Loro Blonyo) dan Pengembangannya dalam Masyarakat Jawa Kontemporer

E. Reintepretasi dan Reproduksi Seni Tradisi
Pengrajin patung tradisi ditantang tidak sekedar meniru sama persis dengan para pendahulu sebagai pewaris. Masyarakat setiap generasi menuntut seni dalam bentuk lain, artinya ada modifikasi atau elaborasi. Dalam konteks ini perlu disadari arti pentingnya setiap generasi mereintepretasi dan mereproduksi seni tradisi dalam bentuk lebih kreatif (bandingkan Abdullah, 2007: 5-8)
Keaneka ragaman jenis, bentuk dan kualitas alat serta bahan di era sekarang ini memungkinkan dikembangkan keragaman teknik dan hal lainnya. Persoalan teknologi canggih dalam hal ini bakal berpeluang besar ikut ambil bagian dalam mewarnai seni tradisi bahkan mungkin bisa menggoyahkan. Namun sekalipun ia mampu merangksek hingga ke sendi-sendi seni tradisi paling dalam, tetaplah ia hanya sebagai sarana, tak mungkin menggantikan peran sepenuhnya seorang pengembang yang dilengkapi dengan kadar cipta, rasa, dan karsanya dalam menghadirkan sebuah karya rupa (Rudyansah, 2001: 4). Tentu sarana teknologi kekinian memungkinkan diplihnya teknik yang variatif. Cara demikian membuka peluang dalam proses berkarya lebih mudah bahkan tidak ada kendala sama sekali. Hal ini turut pula mendorong seni patung tradisi seperti loro blonyo memungkinkan diperluas fungsinya. Kemudahan membuat keleluasaan lebih luas lagi seni tradisi dalam menstransform secara adaptif ke arah bentuk dan fungsinya. Dengan demikian masyarakat pendukung kebudayaan yang di dalamnya, para pelaku seni tradisi secara aktif mencermati lagi / reinterpertasi terhadap seni tradisi untuk diolah kembali/ reproduksi dalam bentuk lain namun esensinya tidak berubah, ia masih menggambarkan figur loro blonyo. Pengembangan seperti bentuk luar hanyalah bersifat permukaan saja, sedangkan isinya relatif masih sama, inilah transformasi. Keterkaitan historis tradisi yang terkait dengan nilai Jawa disadari atau tidak adalah bagian dari kelangsungan kebudayaan Jawa. Ia merupakan rekonstruksi pikiran masyarakatnya sebagai jawaban atas tuntutan kekiniannya. Pelaku kesenian tradisi mereproduksi atas fenomena lingkungan sekitar melalui budayanya. Seni tradisi dengan segala bahan dan alat yang lebih kaya, ditopang persepsi kekinian, atas realitas yang ditafsir mampu menghasilkan penafsiran baru. Seni patung tradisi loro blonyo dengan demikian bukan lagi sebagai teks yang ditafsirkan sebagai unsur kebudayaan yang terpisah. Ia tidak sekedar realitas tunggal, tetapi multi realitas yang memungkinkan hadirnya realitas baru sebagai pemecahan atas masalah yang dihadapi dalam kehidupan suatu masyarakat (bandingkan Simatupang, 2006: 3) Ia bisa diposisikan dalam konteks luas seperti dalam dunia pariwisata. Seni loro blonyo dengan demikian semakin luas cakupannya, memungkinkan dikembangkan secara terpadu dengan aspek lain seperti pariwisata. Keberadaannya bukan lagi untuk fungsi terapan seperti ritual-sakral melainkan diperluas menjadi fungsi estetis bagi konsumen, sehingga lebih mengikuti kemasakinian/ kontemporer. Pada sisi pelaku seni tradisi, kesenian ditempatkan sebagai sumber ekonomi, mata pencaharian. Ia eksis sebab difungsikan sebagai sarana memenuhi kebutuhan pokok. Bagi konsumen seni patung tradisi loro blonyo bisa jadi untuk memenuhi kebutuhan tertiernya. Interaksi antar karyawan, maupun karyawan dengan pemilik unit usaha, dan relasi antara keduanya dengan konsumen/pasar maupun masyarakat secara luas, merupakan kesatuan aspek sosial yang turut mewarnai proses reintepretasi dan reproduksi atas seni tradisi. Paparan di atas mengingatkan kita akan pentingnya pelaku seni rupa tradisi sebagai creatifman, yang turut mengambil bagian penting dalam mengembangkan seni tradisi dalam masanya (kekinian) F. Transformasi Patung Loro Blonyo : Konteks Masyarakat Kontemporer Konsep transformasi bukanlah berarti perubahan seperti yang terkandung pada arti change dalam bahasa Inggris. Transformasi dalam hal ini menunjuk pada berubahnya sesuatu namun tidak melalui suatu proses tertentu, dalam hal ini proses tidak dilihat sebagai hal yang penting. Karena hakekat transformasi adalah alih rupa atau dalam sebutan bahasa Jawa ngoko malih. Karena itu transformasi di sini adalah proses perubahan dalam tataran permukaan, sedangkan dalam tataran yang lebih dalam bagi perubahan itu tidak terjadi (Ahimsa Putra, 2001: 62-64). Ibaratnya dalam suatu bahasa isinya masih sama hanya cara penyampaiannya dengan bahasa lain atau berbeda. Pengembangan seni sering disebabkan oleh faktor pendorong yang menjadi sumber penggerak. Dunia pariwisata adalah satu contoh pendorong kuat seni tradisi berkembang. Pariwisata berpengaruh besar terhadap pengembangan industri jasa. Industri pariwisata memicu seni tradisi bertransformasi. Ia bukan sebagai hal terpisah, namun bisa ditempatkan sebagai atraksi, tontonan dan juga komoditas. Dalam contoh paling kongkrit seni tradisi loro blonyo dikembangkan sebagai souvenir. Aspek ekonomi atau modal usaha merupakan pangkal kegiatan pariwisata dan berkesenian, sehingga keduanya sinergis satu sama lain dan saling menguatkan kedudukannya. Dari tinjauan semula secara historis fungsi patung loro blonyo tidak sama dengan sekarang namun telah mengalami penyesuaian. Kita dapat mengecek sejarah ketika fungsi religius magis dominan pada masa kekuasaan raja, demikian pula ketika zaman menuntut bergeser ke arah politis atau fungsi kekuasaan. Pada akhirnya kini patung tradisi beralih menjadi fungsi ekonomi. Fungsi terakhir ini menjadi paling dominan untuk konteks kekinian. Dalam pengembangan lebih jauh patung loro blonyo dapat disesuaikan. Loro blonyo sebagai seni tradisi yang semula bentuk wajahnya mencerminkan figur wajah formalistik sebagai perangai yang sakral. Demikian pula atribut lengkap yang melekat pada anggota badan patung. Termasuk bagian bawah patung yang berupa kain kebaya batik mengemban pesan budaya agung, sebagaimana tercermin pada motif kain batik sidomukdi, sidomulyo dan sebagainya. Dari bentuknya yang formalis, sakral kemudian bentuknya dideformasi, disesuaikan dengan kondisi tuntutan zaman (market) yang mengarah sebagai bentuk yang memiliki daya tarik, sehingga lalu ada penyesuaian. Mimik ketawa, ekspresi lucu serta gaya liukan badan mengesankan bentuk yang tidak formal namun jenaka, ganjil yang pada dasarnya merupakan upaya pengembangan. Satu bentuk menong berupa pasangan figur patung atau boneka laki-laki dan perempuan, adalah bentuk pengembangan patung loro blonyo dalam bentuk lain. Boneka ini diproduksi di desa Sentolo, Kulon Progo dengan media kayu. Dalam media keramik atau tanah liat juga dikembangkan aneka loro blonyo di Kasongan, Kabupaten Bantul. Pada kenyataan di lapangan bentuk ini banyak dikembangkan pengrajin sebagai kreator, sedangkan dari aspek pasar diminati para konsumen (Guntur, 2000) Perubahan permukaan dapat diarahkan dari segi ukuran. Aspek ini bisa dibuat lebih efisien karena bentuk lebih kecil, sehingga bahan yang diperlukan juga tidak seberapa. Pengembangan ukuran dari segi ekonomi dan media cukup menguntungkan. Sisa-sisa hasil pembuatan untuk ukuran besar limbahnya bisa dimanfaatkan untuk karya ukuran kecil. Dari sudut pandang nilai ekonomi tentu menguntungkan. Variasi ini juga merupakan sisi strategis dalam mengembangkan seni rupa tradisi lebih eksis dan produktif. Pengembangan dari aspek media semula kayu jati, kayu Jawa namun bisa dikembangkan dengan fiber, gips dan bahkan bisa dibuat dalam jumlah besar (mass product). Media ini merupakan pengembangan dari sekedar satu macam kayu, sehingga keberadaan loro blonyo dalam masyarakat kontemporer akan memberikan keluasan untuk memilih. Suvenir dari bahan kayu banyak digunakan sebagai benda fungsional seperti gantungan kunci dan hiasan ruangan. Sebagai benda suvenir loro blonyo telah dikembangkan dengan media keramik baik yang dicetak maupun yang dibuat langsung.. Kaitannya dengan fungsi ritual magis, patung ini memiliki sifat sakral. Pandangan dikotomis patung yang ditempatkan pada ranah sakral dapat diseimbangkan dengan pandangan pofan atau keduniawian (Caillois, 1959). Dalam pengembangannya fungsi sakral magis patung di tempat wingit tetap dipertahankan. Namun perlu dikembangkan pula dalam fungsi profan (tidak sakral), hal ini secara riil ketika ditempatkan pada ruangan yang lain. Suasana ini bisa menjadi alternatif mengembangkan penempatan patung dalam tempat lebih luas. Dengan demikian soal penempatan bisa dikembangkan. Apabila dahulu penempatannya di senthong tengah dalam struktur rumah tradisional joglo, maka bisa ditaruh ditempat lain seperti kamar tidur, ruang tamu, kantor, hotel dan bahkan di ruang lain seperti ruang makan dan ruang belajar. Hal ini memungkinkan patung tradisi loro blonyo dapat ditempatkan pada wilayah lebih leluasa, sehingga memiliki potensi dikenal, dipahami dan bahkan dimiliki. Sepasang patung penempatannya diperluas sebagai sarana menambah keadaan menjadi lebih indah, menarik, berkesan etnik dan seterusnya Harapan patung sebagai sarana mendatangkan kesuburan, keharmonian, kemanunggalan, dapat dikembangkan lebih luas. Kalau semula kesuburan maksudnya adalah kesuburan dalam dunia pertanian atau kesuburan dalam dunia keturunan atau anak, sekarang bisa diperluas. Kesuburan bisa dikembangkan dalam arti rejeki kalau dahulu sawah masih banyak, maka rejeki juga berarti kesuburan karena sekarang sawahnya ganti di kantor, di pabrik, di toko dan sebagainya. Konteks keharmonian dahulu adalah pasangan kepala dan ibu kelurga, maka sekarang dikembangkan dalam bermasyarakat. Sedangkan harapan kemanunggalan kalau dahulu adalah menyatunya rasa antara suami dan isteri, sekarang diperluas menjadi kemanunggalan hubungan antar manusia, manusia dengan alam lingkungan dan hubungan antara hamba dan Tuhan. Beberapa rasionalisasi sebagai upaya pengembangan dari sudut pandang bahan baku, bentuk-gaya, ukuran, penempatan dan fungsi semakin menegaskan pentingnya transformasi. Artinya dalam hal ini seni patung tradisi loro blonyo telah dimaknai secara lebih luas. Dengan kata lain masyarakat kontemporer telah mereinterpretasi dan rekonseptualisasi patung tradisi ke dalam pengembangan yang baru, namun esensi sepasang patung loro blonyo masih sama, pasangan laki-laki dan perempuan. Ia adalah simbolisme kaharmonian, keselarasan dan kemanunggalan atas dua hal yang berlawanan. G. Penutup Kesenian tradisi bukanlah seni yang mandheg atau sudah berhenti, ia senantiasa berproses menyempurnakan diri sepanjang sejarahnya, sebab jika tidak ia akan ditinggalkan masyarakatnya pendukungnya. Dalam konteks ini pengrajin sebagai kreator dan masyarakat sebagai apresiator sangat besar perannya dalam kelangsungan seni tradisi. Seni tradisi sebagaimana patung loro blonyo bergeser fungsi dari sakral ke fungsi ekonomi, sebagai bentuk penyesuaian atas tuntutan masyarakat pedukungnya Persoalan penting dalam pengembangan seni tradisi adalah bagaimana persepsi-pelaku seni tradisi menafsir ulang dan mereproduksi ke dalam bentuk lain yang bersifat alih rupa namun esensinya sama (transformatif). Peran para teorisi-praktisi seni dan pasar serta gerak masyarakat menjadi sangat penting dalam kelangsungan kehidupan seni tradisi itu sendiri. Seni tradisi bergerak, berkembang dan senantiasa berjalan sseiring dengan pergantian generasi. Akhirnya dalam memaknai pengembangan kesenian tradisi dalam masyarakat kontemporer kata kuncinya adalah : ”tidak ada yang abadi. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri” Oleh karenanya para pelaku seni tradisi baik praktisi maupun teoritisi perlu menyamakan persepsi bahwa seni tradisi adalah seni yang dinamis (dynamic art) bukan seni yang statis (static art). Daftar Pustaka Abdullah, I. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Pustaka Pelajar Offset Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. "Tekstual dan Kontekstual Seni dalam Kajian Antropologi Budaya". Seminar International Metodologi Penelitian Seni Pertunjukkan Indonesia. Surakarta STSI 3-4 Juli 2002. Caillois, R. 1959. Man and The Sacred. Translated by Meyer Barash. Urbana and Chicago: University of Illionis Press. Darsiti, 1989. Kehidupan Duna Keraton Surakarta 1830-1939. Yogyakarta: Tamansiswa Firth, R. 1992. "Art and Anthropology" (Coot, J. and Shelton, A. ed.). Anthropology Art and Aesthetics. New York: Oxford University Press. Hal. 15-36 Fisher, Joseph. 1994. The Folk Art of Java. New York: Oxford University Press. Gundono, S. 2004 “Culture Persimpangan dan Wayang Apa Saja Sebuah Proses Kreatif yang Bergerak”. Seminar Nasional Lintas Budaya. 30-31 Agustus STSI Surakarta Guntur. 2000. Loro Blonyo dan Menongan: Komparasi Ekspresi. Laporan Penelitian. Surakarta: STSI Laksono. 2005. “Reposisi Budaya Etnis dalam Wacana Transformasi Bangsa” Seminar Nasional Rekonstruksi Budaya: Upaya Penumbuhan Etos Kerja Dalam Menghadapi Tantangan Global 2 Maret 2005 Mardimin, J. 1994. Jangan Tangisi Tradisi Transformasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisus Rudyansah, T. 2001. “Simbiosis Seni dan Teknologi untuk Menciptakan Nilai Terbaru”. Seminar Internasional Seni dan Teknologi 16-17 Juli STSI Surakarta Santosa. R.B. 2000. Omah: Membaca Makna Rumah Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya Simatupang, L.L. 2006. "Jagad Seni: Refleksi Kemanusiaan". Makalah disampaikan dalam Workshop Tradisi Lisan Sebagai Wahana Komunikasi yang Sangat Efektif di Tengah Masyarakat yang Sedang Berubah tanggal 6 September 2006. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Smith, C.S. 1986. Macmillan Dictionary of Anthropology. London and Basingstoke: The Macmillan Press Subiyantoro, S. 2009. Patung Loro Blonyo dalam Rumah Tradisional Jawa: Studi Kosmologi Jawa. Disertasi S3. Tidak diterbitkn. Yogyakarta: UGM L. Riwayat Penulis Slamet Subiyantoro. Lahir Klaten, 21-05-1965. Gol IVc, Pendidikan lulus D3 Seni Rupa & Kerajinan IKIP Yogyakarta (1987), S1 Seni Rupa & Kerajinan IKIP Yogyakarta (1989), S2 Antropologi Seni UI Jakarta (1998), S3 Antroplogi Budaya UGM Yogyakarta (2009). Pengalaman sebagai reviewer penelitian (LPPM UNS, Fak Sastra UNS, Dikti, ISI Surakarta), Pengelola jurnal ilmiah PBS FKIP (2001-2002; 2009-sekarang), Jurnal Cakrawisata LPPM UNS (1998-sekarang). Peneliti PUSPARI LPPM UNS (1998-2006), peneliti PPLH LPPM UNS (2006-sekarang). Penelitian yang sudah dikerjakan 73 judul meliputi penelitian kompetetif: dosen muda, fundamental, hibah bersaing, Menristek dan LIPI maupun kerjasama antar instansi dan dana internal UNS. Artikel yang ditulis 30 judul, 11 judul di antaranya dimuat pada jurnal terakreditasi. Beberapa artikel dimuat pada jurnal Paedagogi UNS, Dwijawarta UNS, SENI ISI Yogyakarta, Dikti, ISI Gelar Surakarta, ISI Dewa Ruci Surakarta, Humaniora UMS, Humaniora UGM, Cakrawisata LPPM UNS, Spektrum PBS, Varidika FKIP UMS, Ilmu Sosial UMS, Seni Rupa UNIMED Medan. Buku yang ditulis Filsafat Seni (2005) Revitalisasi Wayang Orang (2006), Antropologi Seni (2007) dan Seminar (2008) [1] Makalah Pembanding Seminar Nasional Pengembangan Kesenian Tradisional dalam Masyarakat Kontemporer tanggal 18 November 2009 pada Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan Universitas Negeri Semarang [2] Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP UNS Surakarta sumber : ssubiyantoro.blogspot.com/2009/11/makalah-loro-blonyo-unes.html loro blonyo kerajinan patung loro blonyo